Jumlah
penduduk yang semakin lama semakin meningkat dan membutuhkan adanya pemukiman
di suatu kawasan perkotaan dan sekitarnya akan mengakibatkan penggunaan lahan
semakin meningkat dan daerah hijau/daerah terbuka yang berfungsi untuk menahan sementara
waktu dan meresapkan air hujan ke dalam tanah semakin berkurang (Lo Russo, 2009).
Adanya ketidakseimbangan antara cut and fill lahan, pemerataan jalan
untuk jalur transportasi, dan banyaknya perkerasan yang menyebabkan porsi
rembesan dan resistensi makin mengecil mengakibatkan porsi limpasan air hujan
membesar dan terjadi banjir.
Dampak
lingkungan yang terjadi terhadap sistem drainase akibat kegiatan manusia adalah
perubahan tata guna lahan semenjak abad ke-20 (Inbar, 2002). Untuk mengatasi
hal ini, salah satu langkah yang perlu diambil adalah dengan memperhatikan
sistem pengelolaan air hujan pada suatu kawasan dalam rangka konservasi air,
yaitu dengan memperhatikan sistem drainase dan kolam retensi sebagai cara untuk
mengendalikan banjir.
Drainase
adalah suatu proses alami, yang diadaptasikan manusia untuk tujuan mereka
sendiri, mengarahkan air dalam ruang dan waktu dengan memanipulasi ketinggian
muka air (Abdeldayem, 2005). Kebutuhan akan sistem drainase yang memadai telah
diperlukan sejak beberapa abad yang lalu, seperti pada masa 300 SM jalan-jalan
pada masa tersebut dibangun dengan elevasi lebih tinggi untuk menghindari
adanya limpasan di jalan (Long, 2007).
Kota
Jakarta merupakan kota dengan perkembangan yang terpusat sehingga menyebabkan
terkonsentrasinya pertumbuhan ekonomi perkotaan sehingga orientasi penduduk ke
dalam kota sangat tinggi. Ledakan migrasi penduduk yang tinggi pada wilayah yang
kurang akan daerah resapan seperti Jakarta adalah masalah yang signifikan dan
akan menyebabkan banjir karena fasilitas drainase yang tidak memadai (Amini,
2009), ledakan migrasi tersebut menuntut kelayakan sarana dan prasarana yang
memadai.
Sekarang
ini, pembangunan sarana dan prasarana yang diperlukan seperti perumahan,
pengelolaan persampahan, jaringan air minum, instalasi pengolahan air minum,
instalasi pengolahan air buangan, drainase, dan sebagainya belum mampu mengimbangi
pertumbuhan penduduk yang timbul.
Kawasan
rawan banjir dan genangan di Kota Jakarta secara geografis telah diidentifikasi
sebagai lokasi yang sangat rawan terjadi banjir dan genangan air. Hal ini disebabkan
oleh kondisi wilayahnya dengan topografi yang relatif datar yang mengakibatkan air
hujan tidak bisa mengalir (kecepatan aliran sungai rendah), curah hujan per
tahun yang cukup tinggi (>200 mm), serta kondisi saluran drainase (primer,
sekunder dan tersier) yang ada sudah tidak mampu mengalirkan air hujan. Kondisi
diatas diperburuk oleh pesatnya alih fungsi lahan yang ada akibat pertambahan
penduduk yang pesat.
Hal
lain yang menjadi permasalahan adalah sampah. Volume sampah Jakarta berdasarkan
data Dinas Pembangunan Umum ditahun 2012, mencapai 6.525 ton atau 29.344 meter
kubik. Sementara itu arus pembangunan yang ada tidak berorientasi kepada
lingkuangan. Sebagai contoh, dengan tingkat pembangunan yang tiap tahunnya
mencapai 20,2% (Bappeda DKI Jakarta,2012), tidak semua drainase yang ada
berfungsi dengan baik. Ruang terbuka hijau di Jakarta hanya seluas 9,8% .
Kondisi drainase di DKI Jakarta banyak yang tidak berfungsi dengan baik. Banyak
sekali ditemukan drainase yang terbengkalai karena tidak dirawat, kotor,
mengeluarkan bau tidak sedap dan merusak pemandangan. Kondisi drainase yang
kotor ini akan semakin mendorong masyarakat untuk terus membuang sampah ke
dalamnya. Hal ini bisa mengakibatkan banjir saat musim penghujan dan sumber
penyakit bagi masyarakat yang tinggal disekitarnya.
Guna menanggulangi kondisi drainase yang tidak
terawat tersebut, maka diperlukan suatu sistem perawatan drainase yang dapat
meminimalisir sampah, memperlancaran aliran air, menghilangkan bau tidak sedap
serta memperindah dan menghijaukan drainase. Drainase tidak akan bisa berfungsi
dengan baik jika tidak dilakukan suatu perawatan. Dalam perawatannya harus
dilakukan sebuah inovasi untuk dapat memperindah dan memperbaiki fungsi dari
drainase itu sendiri.