Model Greenage

on Monday, July 7, 2014
Greenage disusun dengan model yang berfungsi untuk menyaring sampah baik yang berasal dari atas maupun bawah. Terdapat 2 bagian utama yang menyusun konsep ini, antara lain lapisan atas dan penahan sampah bagian bawah.




Lapisan atas adalah bagian dari Greenage yang berfungsi untuk menahan sampah dari bagian atas. Berbentuk melengkung ke atas. Rangka terbuat dari besi pipa galvanis diameter 3 inch dengan ketebalan 4 mm dan dilengkapi jari-jari dari besi beton polos diameter 0,5 inch. Bagian atas kemudian ditutupi kawat loket untuk tempat merambatnya tumbuhan sirih gading. Sirih gading adalah tumbuhan merambat semi-epifit, anggota suku talas-talasan (Araceae). Tumbuhan ini hanya membutuhkan cahaya yang sedikit dan bisa jarang disiram (Akib 2011: 6345). Tumbuhan ini juga dapat memurnikan udara, karena menyerap benzena, toluena dan xilena, dan racun udara lain. (Sawada 2011: 8).



Bagian ini dilengkapi dengan engsel di salah satu sisinya sehingga dapat dibuka tutup, untuk membersihkan sampah yang tersaring di lapisan tersebut.



Kemudian, bagian penahan sampah merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari model Greenage. Penahan ini berbentuk huruf L, berfungsi untuk menahan sampah yang berasal dari aliran air didalam selokan. Sampah yang tertahan dibagian bawah kemudian dapat diangkat, karena bagian ini dirancang agar dapat diangkat dan diturunkan kembali. Rangkaian penahan bagian bawah terdiri atas rangka utama dari besi pipa galvanis diameter 3 inchi dan ketebalan 6 m. Jari-jarinya diisi oleh jarring kawat expanded metal jenis grid mesh GR 50110 ketebalan 5 mm.  


Apa itu GREENAGE?

Greenage adalah sebuah sistem berkelanjutan, yang merupakan sebuah alternatif dalam dalam usaha memperbaiki fungsi drainase dengan cara mencegah pembuangan sampah ke dalam drainase dan penghijauan drainase dengan cara yang inovatif. Greenage memiliki rancang bangun berupa besi dan kawat yang didesain sedemikian rupa diatas drainase yang kemudian diatas kawat tersebut dijalari tumbuhan sirih gading (Epipremnum aureum). Dengan adanya kawat yang dijalari tumbuhan sirih gading akan menutupi bagian atas drainase sehingga dapat mencegah sampah masuk ke dalam drainase. Greenage juga mendesain sistem filtrasi untuk mencegah sampah kiriman dari dalam saluran air. Selain itu, dengan Greenage drainase akan tampak lebih indah dan dapat menghilangkan bau tidak sedap.


Manfaat yang diperoleh dari Greenage adalah sebuah gerakan masyarakat cinta lingkungan dan budaya disiplin dalam membuang sampah. Greenage diharap mampu menyadarkan masyarakat, khususnya yang ada dipemukiman padat dan minim lahan kosong untuk bisa melakukan penghijauan sekaligus merawat lingkungan dengan cara kreatif dan inovatif. Dengan begitu maka akan tercipta lingkungan yang bersih, indah dan nyaman bagi para penghuninya.

Background

Jumlah penduduk yang semakin lama semakin meningkat dan membutuhkan adanya pemukiman di suatu kawasan perkotaan dan sekitarnya akan mengakibatkan penggunaan lahan semakin meningkat dan daerah hijau/daerah terbuka yang berfungsi untuk menahan sementara waktu dan meresapkan air hujan ke dalam tanah semakin berkurang (Lo Russo, 2009). Adanya ketidakseimbangan antara cut and fill lahan, pemerataan jalan untuk jalur transportasi, dan banyaknya perkerasan yang menyebabkan porsi rembesan dan resistensi makin mengecil mengakibatkan porsi limpasan air hujan membesar dan terjadi banjir.

Dampak lingkungan yang terjadi terhadap sistem drainase akibat kegiatan manusia adalah perubahan tata guna lahan semenjak abad ke-20 (Inbar, 2002). Untuk mengatasi hal ini, salah satu langkah yang perlu diambil adalah dengan memperhatikan sistem pengelolaan air hujan pada suatu kawasan dalam rangka konservasi air, yaitu dengan memperhatikan sistem drainase dan kolam retensi sebagai cara untuk mengendalikan banjir.

Drainase adalah suatu proses alami, yang diadaptasikan manusia untuk tujuan mereka sendiri, mengarahkan air dalam ruang dan waktu dengan memanipulasi ketinggian muka air (Abdeldayem, 2005). Kebutuhan akan sistem drainase yang memadai telah diperlukan sejak beberapa abad yang lalu, seperti pada masa 300 SM jalan-jalan pada masa tersebut dibangun dengan elevasi lebih tinggi untuk menghindari adanya limpasan di jalan (Long, 2007).

Kota Jakarta merupakan kota dengan perkembangan yang terpusat sehingga menyebabkan terkonsentrasinya pertumbuhan ekonomi perkotaan sehingga orientasi penduduk ke dalam kota sangat tinggi. Ledakan migrasi penduduk yang tinggi pada wilayah yang kurang akan daerah resapan seperti Jakarta adalah masalah yang signifikan dan akan menyebabkan banjir karena fasilitas drainase yang tidak memadai (Amini, 2009), ledakan migrasi tersebut menuntut kelayakan sarana dan prasarana yang memadai.

Sekarang ini, pembangunan sarana dan prasarana yang diperlukan seperti perumahan, pengelolaan persampahan, jaringan air minum, instalasi pengolahan air minum, instalasi pengolahan air buangan, drainase, dan sebagainya belum mampu mengimbangi pertumbuhan penduduk yang timbul.

Kawasan rawan banjir dan genangan di Kota Jakarta secara geografis telah diidentifikasi sebagai lokasi yang sangat rawan terjadi banjir dan genangan air. Hal ini disebabkan oleh kondisi wilayahnya dengan topografi yang relatif datar yang mengakibatkan air hujan tidak bisa mengalir (kecepatan aliran sungai rendah), curah hujan per tahun yang cukup tinggi (>200 mm), serta kondisi saluran drainase (primer, sekunder dan tersier) yang ada sudah tidak mampu mengalirkan air hujan. Kondisi diatas diperburuk oleh pesatnya alih fungsi lahan yang ada akibat pertambahan penduduk yang pesat.

Hal lain yang menjadi permasalahan adalah sampah. Volume sampah Jakarta berdasarkan data Dinas Pembangunan Umum ditahun 2012, mencapai 6.525 ton atau 29.344 meter kubik. Sementara itu arus pembangunan yang ada tidak berorientasi kepada lingkuangan. Sebagai contoh, dengan tingkat pembangunan yang tiap tahunnya mencapai 20,2% (Bappeda DKI Jakarta,2012), tidak semua drainase yang ada berfungsi dengan baik. Ruang terbuka hijau di Jakarta hanya seluas 9,8% .

Kondisi drainase di DKI Jakarta banyak yang tidak berfungsi dengan baik. Banyak sekali ditemukan drainase yang terbengkalai karena tidak dirawat, kotor, mengeluarkan bau tidak sedap dan merusak pemandangan. Kondisi drainase yang kotor ini akan semakin mendorong masyarakat untuk terus membuang sampah ke dalamnya. Hal ini bisa mengakibatkan banjir saat musim penghujan dan sumber penyakit bagi masyarakat yang tinggal disekitarnya.

Guna menanggulangi kondisi drainase yang tidak terawat tersebut, maka diperlukan suatu sistem perawatan drainase yang dapat meminimalisir sampah, memperlancaran aliran air, menghilangkan bau tidak sedap serta memperindah dan menghijaukan drainase. Drainase tidak akan bisa berfungsi dengan baik jika tidak dilakukan suatu perawatan. Dalam perawatannya harus dilakukan sebuah inovasi untuk dapat memperindah dan memperbaiki fungsi dari drainase itu sendiri.

Selokan Sekitar Kita

Pernahkah kalian melihat ini?







Aaaaaahhh tidaaak! Buka mata dan lihat sekitarmu, inilah kenyataan yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Selokan mampet, banyak sampah, bau, dan masih banyak lagi komentar lainnya. Tapi sadarkah kamu siapa pelakunya.

Ayo siapa? Ngga usah main tunjuk-tunjukan deh, siapa lagi kalau bukan ANDA!

Begitu hujan deras turun, langsung deh kelabakan, baru mau bersihin selokannnya, padahal sebelumnya mah dibiarin, semua sampah langsung aja cemplungin ke got, toh mengalir ini, ya kan? Cape ah, tempat sampahnya jauh. Yayaya, menghalalkan segala cara praktis untuk kepentingan diri sendiri.

Coba deh tengok kondisi selokan di Jepang!





OMG! Ada ikan koinya lagi asik berenang. Airnya jernih, dan tampak seperti sungai yang mengalir deras. Selokan di Jepang sudah menjalankan fungsinya dengan baik. Bahkan lebih dari itu bisa menjadi media hidup ikan koi *bukan cebong*. LUAR BIASA BUKAN?

Sekarang gimana? Silahkan anda introspeksi diri masing-masing.

Introduction

Assalamualaikum Wr. Wb.

Hallo blogger!
Apa kabarmu hari ini?

Tak kenal maka tak sayang, demikian pepatah yang mungkin kalian sudah sering dengar. Sebelum memulai mem-posting di blog ini, izinkanlah kami untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu.

Kami TIM GREENAGE sekumpulan orang-orang yang masih peduli dengan lingkungan sekitar yang sudah tidak bersahabat lagi. Khususnya masalah sampah di selokan. Masalah sepele, namun sering tak diperhatikan.

Beranggotakan 5 orang GreenRanger, inilah kami:


GreenRanger 1 - Gustaf Geysbert (@gustafgeysbert)
GreenRanger 2 - Devie Yundianto (@Yunddev)
GreenRanger 3 - Hasan Hudaiby (@hudai19)
GreenRanger 4 - Indiana Shinta Dewi (@IndianaShinta)
GreenRanger 5 - Zaenal Arifin (@arifinnal)

So, buat kamu yang pengen tanya-tanya langsung tentang Greenage, tanyakan langsung aja ke 5 GreenRanger kami.

Oiya, jangan lupa juga buat follow twitter kami di @greenageUNJ ok!

Waalaikumsalam Wr. Wb.