Background

on Monday, July 7, 2014
Jumlah penduduk yang semakin lama semakin meningkat dan membutuhkan adanya pemukiman di suatu kawasan perkotaan dan sekitarnya akan mengakibatkan penggunaan lahan semakin meningkat dan daerah hijau/daerah terbuka yang berfungsi untuk menahan sementara waktu dan meresapkan air hujan ke dalam tanah semakin berkurang (Lo Russo, 2009). Adanya ketidakseimbangan antara cut and fill lahan, pemerataan jalan untuk jalur transportasi, dan banyaknya perkerasan yang menyebabkan porsi rembesan dan resistensi makin mengecil mengakibatkan porsi limpasan air hujan membesar dan terjadi banjir.

Dampak lingkungan yang terjadi terhadap sistem drainase akibat kegiatan manusia adalah perubahan tata guna lahan semenjak abad ke-20 (Inbar, 2002). Untuk mengatasi hal ini, salah satu langkah yang perlu diambil adalah dengan memperhatikan sistem pengelolaan air hujan pada suatu kawasan dalam rangka konservasi air, yaitu dengan memperhatikan sistem drainase dan kolam retensi sebagai cara untuk mengendalikan banjir.

Drainase adalah suatu proses alami, yang diadaptasikan manusia untuk tujuan mereka sendiri, mengarahkan air dalam ruang dan waktu dengan memanipulasi ketinggian muka air (Abdeldayem, 2005). Kebutuhan akan sistem drainase yang memadai telah diperlukan sejak beberapa abad yang lalu, seperti pada masa 300 SM jalan-jalan pada masa tersebut dibangun dengan elevasi lebih tinggi untuk menghindari adanya limpasan di jalan (Long, 2007).

Kota Jakarta merupakan kota dengan perkembangan yang terpusat sehingga menyebabkan terkonsentrasinya pertumbuhan ekonomi perkotaan sehingga orientasi penduduk ke dalam kota sangat tinggi. Ledakan migrasi penduduk yang tinggi pada wilayah yang kurang akan daerah resapan seperti Jakarta adalah masalah yang signifikan dan akan menyebabkan banjir karena fasilitas drainase yang tidak memadai (Amini, 2009), ledakan migrasi tersebut menuntut kelayakan sarana dan prasarana yang memadai.

Sekarang ini, pembangunan sarana dan prasarana yang diperlukan seperti perumahan, pengelolaan persampahan, jaringan air minum, instalasi pengolahan air minum, instalasi pengolahan air buangan, drainase, dan sebagainya belum mampu mengimbangi pertumbuhan penduduk yang timbul.

Kawasan rawan banjir dan genangan di Kota Jakarta secara geografis telah diidentifikasi sebagai lokasi yang sangat rawan terjadi banjir dan genangan air. Hal ini disebabkan oleh kondisi wilayahnya dengan topografi yang relatif datar yang mengakibatkan air hujan tidak bisa mengalir (kecepatan aliran sungai rendah), curah hujan per tahun yang cukup tinggi (>200 mm), serta kondisi saluran drainase (primer, sekunder dan tersier) yang ada sudah tidak mampu mengalirkan air hujan. Kondisi diatas diperburuk oleh pesatnya alih fungsi lahan yang ada akibat pertambahan penduduk yang pesat.

Hal lain yang menjadi permasalahan adalah sampah. Volume sampah Jakarta berdasarkan data Dinas Pembangunan Umum ditahun 2012, mencapai 6.525 ton atau 29.344 meter kubik. Sementara itu arus pembangunan yang ada tidak berorientasi kepada lingkuangan. Sebagai contoh, dengan tingkat pembangunan yang tiap tahunnya mencapai 20,2% (Bappeda DKI Jakarta,2012), tidak semua drainase yang ada berfungsi dengan baik. Ruang terbuka hijau di Jakarta hanya seluas 9,8% .

Kondisi drainase di DKI Jakarta banyak yang tidak berfungsi dengan baik. Banyak sekali ditemukan drainase yang terbengkalai karena tidak dirawat, kotor, mengeluarkan bau tidak sedap dan merusak pemandangan. Kondisi drainase yang kotor ini akan semakin mendorong masyarakat untuk terus membuang sampah ke dalamnya. Hal ini bisa mengakibatkan banjir saat musim penghujan dan sumber penyakit bagi masyarakat yang tinggal disekitarnya.

Guna menanggulangi kondisi drainase yang tidak terawat tersebut, maka diperlukan suatu sistem perawatan drainase yang dapat meminimalisir sampah, memperlancaran aliran air, menghilangkan bau tidak sedap serta memperindah dan menghijaukan drainase. Drainase tidak akan bisa berfungsi dengan baik jika tidak dilakukan suatu perawatan. Dalam perawatannya harus dilakukan sebuah inovasi untuk dapat memperindah dan memperbaiki fungsi dari drainase itu sendiri.

0 comments:

Post a Comment